skip to Main Content
Neliti website       This is an archived version of the old Neliti website. For the new website, please visit www.neliti.com

A small scale macroeconometric model of external debt, exchange rate and monetary policy rule: the case of Indonesia

Pengembangan model ekonomi makro berskala kecil sedang menjadi focus perhatian banyak pemodel makro ekonomi dewasa ini. Pemodelan ekonomi makro berskala kecil ini telah di pelopori oleh Agveli (1977), Batini dan Haldane (1999) untuk pengembangan pendekatan ekonomi makro moneter. Gagasan John B Taylor (1993) tentang monetary policy rule telah membangkitkan minat banyak negara untuk meng-adopsi Taylor rule bagi kepentingan praktek pengendalian Bank Sentral.

Taylor (1993) dalam gagasannya mempergunakan pendekatan policy rule tingkat suku bunga sebagai reaction function untuk mendapatkan sasaran akhir inflasi dan output, dengan mengabaikan peranan exchange rate sebagai bagian penting yang menentukan keseimbangan ekonomi makro khususnya bagi negara dengan perekonomian yang semakin terbuka.

McCallum dan Nelson (1998) dan sejumlah penulis lain telah mengembangkan inflation targeting framework dengan mempergunakan exchange rate sebagai anchor menggantikan peranan tingkat suku bunga. Dalam konteks pengembangan small macroeconomic model, terdapat semacam consensus bahwa para peneliti menyusun pemodelan Philip curve, aggregate demand dan fungsi lost function untuk mendeteksi kerugian minimal apabila dilaksanakan sasaran akhir untuk menetapkan inflasi yang rendah, dengan akibat terjadinya kerugian pada potensi produksi dan kesempatan kerja untuk berkembang tumbuh.

Meskipun pemodelan small scale macroeconomic mencapai consensus, namun peneliti tidak memiliki keseragaman pendapat tentang muatan variabel makro ekonomi dari ketiga system persamaan sebagaimana disebutkan diatas, termasuk praktek penggunaannya, masih terdapat varitas penggunaan small simple macroeconomic model, sebaliknya terdapat sejumlah peneliti yang lebih memandang perlunya perluasan small scale macroeconomic pada tingkat medium. Peneliti pertama, melihat policy rule dari sisi praktis untuk kepentingan praktek Bank Sentral, sedangkan type peneliti kedua, untuk melihat lebih jauh dampak dari kebijakan moneter terhadap sektoral ekonomi makro tertentu.

Penelitian ini merupakan langkah awal untuk melihat kemungkinan peran serta exchange rate sebagai penentu tingkat inflasi, terutama dari deficit yang terjadi pada neraca pembayaran, serta pada akhirnya berdampak pada perdagangan ekspor dan import sebagai bagian dari aggregate demand yang akan memposisikan output potensial. Secara teoritis, peningkatan aggregate demand akan membentuk heating economics, sehingga Bank Sentral dapat melakukan intervensi di pasar valuta. Dengan menaikkan cadangan devisa, Bank Indonesia bisa berharap akan terjadinya apresiasi rupiah yang akan membuat barang impor menjadi lebih murah, atau sebaliknya meningkatkan peran aggregate demand melalui jalur nilai tukar untuk mengekang permintaan barang impor melalui langkah depresiasi.

Berdasarkan hasil analisis regressi, ditemukan adanya trend tentang peranan nilai tukar terhadap inflasi secara tidak langsung. Meskipun demikian, secara keseluruhan pengujian model ekonometrik masih jauh dari sempurna, sehingga memerlukan langkah perbaikan penelitian lanjutan secara lebih mendalam, dengan mempergunakan pendekatan logaritma.

Download Full Text

Leave a Reply

Back To Top